Freediving Amed, Bali
Bali, Freedive, Travel

Belajar Freediving di Amed, Bali

Hobi berenang membuat saya suka dengan kegiatan yang dekat dengan air, baik itu kolam renang atau laut. Dulu, ketika masih duduk di bangku sekolah dasar saya sudah bergabung dengan salah satu klub renang terbaik di Jakarta, di kolam renang Senayan. Setelah dewasa, mulai lah menjelajah lautan dengan cara snorkeling. Biasa berenang di kolam, berenang di laut terasa asik sekali bisa melihat keanekaragaman makhluk hidup yang memenuhi dasar laut.

Amed, Bali
Amed

Tapi saya penasaran, bagaimana sih rasanya jika bisa menyelam lebih dalam ke laut? Maka dari itu ketika saya snorkeling di laut, saya lebih sering menyelam ke dalam, walaupun tidak terlalu dalam. Tentu saya lakukan tanpa pengetahuan teknik menyelam yang baik dan peralatan yang tidak memadai.

Singkat cerita, saya baru mengetahui istilah freediving saat melihat salah satu postingan seorang travel blogger di Instagram. Penasaran, tapi waktu itu entah kenapa tidak mencari-cari informasi lebih lanjut. Baru lah ketika saya snorkeling di Karimunjawa tahun lalu, kata freedive muncul lagi. Waktu snorkeling, snorkel guide saya bertanya apakah saya seorang freediver. Dia bertanya karena melihat saya lebih suka menyelam dan menahan nafas daripada hanya mengambang di atas laut. Tentu saya jawab tidak, lalu tanpa saya minta dia mengajak saya untuk melihatnya freedive ke kedalaman 20 meter. melihatnya menyelam begitu dalam tanpa alat pernapasan hati saya tergugah dan adrenalin memuncak, pokoknya saya harus belajar freedive! Seeing is believing..

Itulah sedikit latar belakang cerita bagaimana (akhirnya) saya mengenal freedive.  Lalu sekitar 1 tahun kemudian saya berkesempatan mengikuti kursus freedive di Bali.  Waktu yang paling ditunggu akhirnya tercapai, kursus freedive!

Kursus freedive pertama saya memilih lokasi di Amed, Bali. Lokasinya bagus dan banyak tersedia sekolah-sekolah freedive. Setelah mendapatkan sekolah yang cocok, saya pun segera terbang ke Bali. Seperti biasa, saya tidak sendiri melainkan dengan keluarga.

Dani, dia lah instruktur saya untuk kursus freedive level 1. Luckily, dia adalah satu-satunya instruktur freedive Indonesia yang menetap di Amed! Oh iya, freedive lesson yang saya ambil adalah Pure Apnea yang asalnya dari Afrika Selatan.

Berikut saya ceritakan keseharian saya selama mengikuti kursus freedive yang berlangsung selama dua hari. Dua hari yang berjalan sangat cepat!

Underwater of Amed, Bali
Koral di Pantai Jemeluk

Hari Pertama – Kelas Teori + Kolam Renang (STA & DYN)

Namanya juga kursus, pasti ada juga teorinya. Hari pertama kami mengikuti kelas teori di ruangan. Kelasnya santai, kami duduk ngampar di lantai sambil mendengar penjelasan dari Pak Dani.

Teorinya tidak terlalu banyak, hanya pelajaran dasar mengenai freediving dan teknik pernapasan yang benar. Teori yang paling saya ingat adalah tentang mamalian, yang intinya mengatakan bahwa manusia itu bisa menahan nafas lebih lama di dalam air layaknya ikan paus. Mengetahui teori ini saya jadi termotivasi untuk bisa belajar lebih jauh agar bisa mengatur dan menahan nafas lebih lama.

Setelah presentasi teori selesai, selanjutnya kami melakukan praktek pemanasan sebelum latihan di kolam renang. Prakteknya adalah belajar menenangkan tubuh agar bisa rileks sebisa mungkin yang nantinya akan berpengaruh kepada durasi kita menahan nafas. Saya pribadi mengalami kesulitan dalam penerapan pelajaran ini, susah rasanya untuk rileks tidak di dalam air.

Di kolam, kami mempraktekkan static (STA) dan dynamic (DYN). Static apnea adalah menahan nafas di dalam air tapi tubuh tidak bergerak alias diam mengambang saja di permukaan air. Kunci keberhasilan static ini adalah membuat tubuh serileks mungkin, dengan begitu penggunaan oksigen di dalam tubuh dapat dikurangi lalu memperpanjang waktu menahan nafas.

Saya sendiri mencetak rekor pribadi yaitu menahan nafas selama 3 menit 10 detik, Tidak disangka saya bisa menahan nafas selama itu!

Teknik selanjutnya yaitu Dynamic apnea yaitu berenang menahan nafas dengan fin lalu berenang mengikuti tali yang dipanjangkan kira-kira 50 meter. Bukanlah hal yang sulit bagi saya, tapi memang menahan nafas ketika berenang dan diam itu sangat berbeda sekali, jauh lebih susah mengontrol nafas ketika kita melakukan pergerakan, belum lagi jika panik.

Hari Kedua – Praktek Laut (FIM & CWT) + Ujian

Freediving Course Amed, Bali
Deg-degan sebelum perform CWT

Hari kedua, hari yang paling ditunggu karena ini saatnya untuk praktek di laut. Hari ini juga adalah hari terakhir sekaligus hari di mana saya akan dinyatakan lulus atau tidak.

Lokasi freedive kami di Jemeluk, tempat snorkeling terbaik di Amed. Tapi kali ini saya tidak snorkeling, lupakanlah ikan-ikan dan terumbu karang karena kali hanya ada tali, buoy, dan adrenalin! Praktek dimulai dari free immersion (FIM) yaitu menyelam ke dalam tanpa usaha badan, gantinya menggunakan kai untuk menyelam, free immersion menggunakan tali yang diikatkan pada pemberat. Kedalamannya tergantung kemampuan masing-masing, saat itu saya langsung bisa menyelam sedalam 15 meter.

Mengapa FIM didahulukan? Karena agar terbiasa menyelam sejajar a.k.a menyelam tidak menghadap ke bawah ataupun keatas, hanya sejajar dengan tali. Gampang? Susah tau! Membayangkan menyelam sejajar itu gampang sekali, tinggal nyelem apa susahnya sih? Mungkin FIM itu  gampang, karena masih dibantu dengan tali untuk menyeimbangkan tubuh. Beda halnya ketika constant weight yaitu menyelam dengan fin. Ini adalah teknik yang biasa, maksudnya teknik menyelam pada umumnya orang menyelam menggunakan usaha kaki dan fin. Tapi, ada tapinya, tetap harus sejajar dengan tali!

Freedive Amed, Bali

Pada kedalaman 10 meter, sejajar itu mudah, tapi ketika sudah lebih dalam lagi, badan menjadi susah seimbang yang akibatnya menyelam kearah yang amburadul. Belum lagi saya harus mengontrol equalizationEqualization artinya panjang, gampangnya itu adalah teknik menahan udara agar gendang telinga kita tidak pecah saat melakukan penyelaman. Kata instruktur, saya punya “gift” dari Tuhan, karena saya tidak perlu equalization sampai kedalaman kira-kira 10 meter. Jika perlu pun, di waktu tertentu, saya tidak perlu bantuan tangan untuk bisa berekualisasi. Thanks God

Freedive
(acuhkan kaki saya yang memanjang akibat efek kamera)

Selain equalization, saya juga belajar duck dive yang benar. Duck dive adalah teknik menyelam persis seperti bebek menyelam yaitu menyelam dengan kepala yang menukik ke bawah disertai dorongan dari badan ke bawah. Teknik ini memudahkan tubuh untuk langsung menyelam ke dalam laut.

Sekarang saatnya melaksanakan syarat terakhir untuk lulus menjadi freediver yaitu CWT ke kedalaman 14 meter. Ini lucu, karena sebenarnya saya sudah bisa mencapai kedalaman 15 meter di sesi pertama. Ada satu lagi yang tidak boleh dilupakan yaitu praktek penyelamatan, seperti pertolongan pertama pada freediving. Ini dipelajari agar para freediver dapat menjadi freedive buddy bagi freediver lain.

Freediving
Pertolongan pertama sebagai salah satu syarat untuk lulus freedive

Pertolongan pertama dilakukan dengan cara membawa naik target ke permukaan agar segera diberikan pertolongan medis. Biasanya ini diperlukan jika ada freediver yang tidak sadarkan diri atau mengalami black out. Nah, paling penting menjaga si freediver dengan cara yang benar, kalau tidak, bisa-bisa kita lah yang membawa petaka bagi si freediver.

Setelah dinyatakan bisa melakukan pertolongan pertama oleh instruktur, sekarang saatnya saya perform constant weight. Deg-degan (padahal ga boleh), pertama-tama saya melakukan duck dive lalu mendorong badan ke dalam dan menyelam sejajar dengan tali. Tanda petunjuk kedalaman menunjukkan saya sudah di kedalaman 5 meter…lalu 10 meter..15 meter (gile dalem banget ini *dalamhati)..16 meter daan ketemu lah dengan pemberat yang tandanya saya harus naik. Yeah, saya berhasil!

“Selamat ya Bay! Sudah jadi freediver nih!”, seru Pak Dani.

Wah, senang sekali rasanya, impian menjadi “certified freediver” tercapai sudah.

Freediving Amed, Bali
Foto dengan instruktur saya, Pak Dani

Eits, ternyata setelah praktek laut masih ada ujian tertulis! Walaupun ujian ini sifatnya hanya untuk mengingat dan mengulang kembali teknik-teknik yang sudah dipelajari, ujian ini menguras otak saya yang sudah bercampur senang dan kelelahan freediving seharian!

Freediving ini pengalaman yang sesuatu banget. Bisa menyelam bebas, tanpa alat, tanpa biaya yang selangit, dan menyehatkan tubuh, keren bukan? Memaksimalkan kemampuan tubuh dan bisa melakukannya menurut saya adalah berkat dan kesenangan tersendiri. Tapi ada satu catatan untuk peringatan bagi anda yang ingin mencoba belajar freediving, KETAGIHAN! Sekali anda freedive, saya jamin anda akan merindukan kedalaman laut selamanya! HAHAHA

Tak dipungkiri, ini adalah olahraga ekstrim. Jadi, berhati-hatilah dan selalu ingat jangan pernah freediving sendiri!

Tidak lupa saya ucapkan terima kasih kepada Pak Dani instruktur saya yang sudah mengajari saya dengan sangat baik dan sabar, juga keluarga saya yang sudah mendukung saya.

Travel Deeper

#NeverFreediveAlone

-The Spiffy Traveller-

*Satu impian saya terpenuhi. Sukses freediving, tidak ada salahnya mencoba diving, benar bukan? 🙂

Advertisements

21 thoughts on “Belajar Freediving di Amed, Bali”

  1. Aku baru tahu kalau freediving pun ada kursusnya. Emang bener banget, freedive itu bikin ketagihan. Meski belum belajar secara benar tapi ngerasain banget keseruan bisa menahan nafas lama di dalam air sambil melihat terumbu karang lebih dekat.

    Liked by 1 person

  2. Iya betul koh, bahkan lebih bagus lg AIDA yg khusus freedive (kaya pionernya gitu). Tapi kembali lg ya itu cuma merek aja sih, semuanya diakui secara internasional jg 😉

    Like

  3. Whoaaaaa kamu keren sekali Jonathan. Aku juga sudah lama sekali ingin ambil lisensi freediving tapi beum kesampaian… Sekarang lagi seneng-senengnya scuba diving. Next berarti cobain diving ya? 😉

    Liked by 1 person

  4. duhhh pengen deh belajar freedive yang benar meski takut sama kedalaman.

    selama ini belajar sendiri di kolam 3-5 meter euy. *padahal ini jelas2 gak boleh*

    Liked by 1 person

  5. Betull ada tekniknya bro namanya ekualisasi. Jadi telinga ga bakal sakit lagi, dan ekualisasi itu tiap beberapa meter dilakukannya ☺ ga heran knp ada org yg bisa ke dalem 150 meteran haha

    Like

  6. kamu keren dech, sudah kayak Dani manusia ikan hehehehe… jadi pengen belajar freedive nich. secara sudah keenakan diving jadinya sangat bergantung ama tabung oksigen. kalau freedive gitu kan kita jadi tau lama dan ketahanan kita menahan nafas.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s